Taken from nguleksambel.blog.com, my own write.
Selamat hari Rabu, pembaca., hari dimana saya melanjutkan cerita yang sebenarnya gak pwedes-pwedes amat. Janji adalah janji. Janji is Janji, kalau tidak salah ingat, saya pernah berjanji pada diri saya sendiri kalau rencananya cerita ini saya update setiap satu minggu sekali. Tentu ada alasannya, namun maaf seribu maaf alasan tersebut tidak saya ungkapkan disini. Mungkin lain kali, entah. Nikmati saja.
Masih 11 Oktober 2004
Tak tuk tak tuk, Jemariku berkejar-kejaran dengan serentetan huruf yang muncul di layar ponselku.
“Lagi dimana kamu ran? Ni aq otw kampus”
Recently contact, nama Rani-cowek masih diurutan teratas daftar kontak yang sering aku hubungi. Setelah memasukkan beberapa buku ke dalam tas, aku bergegas menuju ke parkiran kos, sambil memutar-mutar kunci kontak sepeda motor, kebiasan lama yang tidak hilang.
Kampus terlihat seperti biasanya, puluhan sepeda motor berjejer rapi di tempat parkir di ujung timur Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Beberapa mobil milik mahasiswa dan dosen nangkring di seberangnya. Ratusan mahasiswa berjalan lalu lalang, hanya beberapa wajah yang aku kenal. Sisanya seperti lalat, selalu ada, namun tidak tahu apakah lalat yang kutemui sekarang sama dengan yang kutemui kemarin, dan nggak penting.
Ponselku bergetar, sedikit geli di paha bagian atas, dimana ponsel merah-hitam biasa aku sembunyikan, di saku depan.
“Tunggu aja di kantin, bentar lagi aku kesana”
Enam sampai tujuh pesan berjejer vertikal di atas dengan nama Rani-cowek. Setelahnya baru nama lain, biasanya diawali dengan nama Akt, Mgt, atau Esp. Jangan salah paham dulu, tidak ada yang spesial dengan Rani sebenarnya, dan begitupun diantara kami, Rani hanya Rani. Tidak lebih.
Selagi menunggu Rani, ijinkan aku memperkenalkan kepada kalian. Bagaimana ceritanya sampai ada nama Rani-cowek diponselku. Ketika aku pertama kali masuk sebagai mahasiswa angkatan 1998, aku masih terlalu cupu untuk mencari banyak teman, dan biasanya memang seperti itu. Maklum aku memang tidak pintar membuka diri.
Rokok pertama hidup, sambil memesan kopi pahit, minuman yang kuanggap pendamping paling sempurna untuk menikmati satu-dua batang rokok. Diseberang tempatku duduk terdapat sepasang mahasiswa, kemungkinan semester baru tahun ini, kalau aku boleh sok tahu. Terlihat dari kemeja yang masih rapi dan sepatu yang terlihat sekali. Baru.
Kembali lagi ke Rani. Seperti kataku sebelumnya, Rani adalah Rani. Rani bukan siapa-siapa yang harus mendapat tempat spesial dan harus diceritakan secara spesial pula. Rani adalah kenalan pertamaku saat pertama aku menginjakkan kaki di kampus ini. Dan secara kebetulan, Rani terdaftar satu jurusan denganku. Dari kesamaan tersebut, secara sistematis kami memiliki alur kegiatan yang sama. Kira-kira begitulah awal bagaimana aku mengenalnya.
Rani-cowek, bukan sembarang aku memberikan predikat tersebut kepada sosok yang satu ini. Gaya bicaranya yang ceplas ceplos, kadangkala memang sampai salah tempat, tidak sekali dua kali dia mendapat teguran karena gaya bicaranya yang flamboyan itu. Mulutnya memang tempat meracik kata-kata yang pedas. Seperti cowek.
“Hei cowok!udah lama ya nunggunya!” teriakan Rani benar-benar membuyarkan lamunanku tentangnya, Sembari merangkulkan tangan kanannya ke leherku, dia berbisik dengan nada mengancam “Uda janji loh ke Pak Mat, jangan cari-cari alasan lagi loh”, dilanjut dengan mengumbar senyum mengejek. Dan akupun mengiyakan, terlanjur janji, pikirku. Rani berpenampilan seperti biasanya. Dengan kaos dan ditumpuk dengan kemeja yang berwarna terang, ciri khasnya. Sama sekali tidak membawa predikat “mahasiswa semester tua”.
Kopi pesananku datang. Dan aku meminta ijin kepada Rani untuk menghabiskan kopi terlebih dahulu, dan ia mengiyakan. Setengah kopi tidak terasa ditemani dengan celotehan Rani, bercerita tentang apa yang tadi terjadi di kelas. Pak Alwan marah besar. Dosen matakuliah metodologi penelitian itu memang kadang suka nyeleneh, memberikan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan matakuliah samasekali. Dan apesnya, satu mahasiswa yang satu tahun dibawah angkatanku malah lebih nyeleneh. Menjawab dengan asal-asalan, meskipun maksudnya benar.. Masa pertanyaannyeleneh kenapa roda itu bundar dijawab dengan jawaban yang lebihnyeleneh. Kapan pulang.
Alhasil, tugas berat untuk minggu depan.
Setengah cangkir kopi aku biarkan. Tidak kuhabiskan. Rani sudah kebelet banget sama pentol Pak Mat. Kitapun berangkat.
Dua porsi bakso dengan pentol telur, lengkap dengan tahu dan gorengannya, hadir di meja tempatku dan Rani duduk memesan. “Makasih Pak Mat!” ujar Rani bernada seperti anak kecil, dengan nada “a” dipanjang-panjangkan pada kata Mat. Sekilas dilihat, Rani tidak jauh berbeda dengan perempuan kebanyakan, berani taruhan, ada ribuan orang di dunia sana yang mirip dengannya, baik wajah maupun peringainya. Yang membuatnya istimewa adalah, aku mengenalnya. Tidak lebih.
Wangi parfum tercium saat Rani mengibaskan rambut panjangnya ke sisi bahunya, agar tidak tercelup ke manguk bakso, mungkin. Dia mulai menyeruput sendokan kuah pertamanya, saat matanya melirik kearahku, tetap sembari menunduk. “Bengong aja pan??! Dingin tu baksonya!”. Selamat. Rani membuyarkan lamunanku untuk kedua-kalinya hari ini. Dengan senyum pahit akupun ikut menirukan gerakannya. Entah karena ingin membalas perbuatannya, penasaran atau hanya sekedar basa basi, aku menanyakan pertanyaan yang mungkin akan aku sesali beberapa saat kedepan. Mengapa sampai saat ini dia masih saja sendiri.
Ternyata pertanyaan ini membuat Rani bereaksi berlebihan. Buktinya dia tersedak. “Maksudnya apaan? Tanya nggak penting banget gitu??”. Lumayan tinggi nada suaranya saat itu, beberapa mata sampai menoleh kearah kami. Termasuk Pak Mat. Setelahnya, suasana begitu kaku di meja kedai bakso milik Pak Mat. Yang terlihat di depan mataku hanya wajah Rani yang masam.
Februari, 2012
Seorang wanita duduk di sebuah kursi di sebuah teras rumah. Terbuat dari kayu. Wajahnya sedikit gelisah. Berulang kali dia melirik kearah jam dinding di dalam rumah. Pukul tujuh malam. Ponselnyapun dipenuhi dengan satu nama yang dipanggil berulang kali. Hampir tidak terhitung. Bunyi sepeda yang dikenalnya dari kejauhan terdengar saat dia akan menekan tombol dialkepada kontak yang sama. Pan.
Seorang pria memarkir sepeda motor berwarna hitam, dan berjalan santai kearah teras rumah. “Lama banget yah!!kemana aja?” si wanita bertanya dengan nada sedikit histeris. “Maaf ma, tadi ayah mampir sebentar beli sate. Buat makan malam” si pria dengan tersenyum menjawab santai. Mereka berdua lalu masuk kedalam rumah bercat hijau muda tersebut. Bergandeng tangan. Terlihat papan nama di pintu rumah itu. Pan laksono.
-Ipank-





0 comments:
Post a Comment